Indonesia merupakan salah satu negara penting penghasil karet di dunia. Tanaman yang tumbuh hanya di jalur green belt di mana Asia Tenggara menjadi pusat dari pertumbuhan tanaman karet ini menjadi komoditi penting bagi Indonesia. Sekarang ini saja Karet berharga sekitar 4-5 dollar per kilonya. Menurut data Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) area perkebunan karet di Indonesia mencapai luas 3,445 juta hektare dan diperkirakan bertambah 5.000 hektare pada tahun 2011. Bandingkan dengan Brazil, di mana asal pohon karet yang apabila digabung dengan Afrika Selatan hanya sekitar 500 ribu hektare. Thailand hanya sekitar 2,8 juta Hektare.
Produksi karet alam Indonesia tahun 2010 sendiri mencapai 2,736 juta ton tahun lalu. Fakta ini pantaslah untuk mengukuhkan Indonesia menjadi salah satu produsen karet alam besar dunia dengan sumbangan 26,59 persen terhadap total produksi karet dunia yang pada 2010 sebanyak 10,291 juta ton. Layaknya makhluk hidup, tanaman karet pun bisa terganggu produksinya karena memiliki penyakit yang sangat sulit disembuhkan yaitu Kering Alur Sadap (KAS). Namun kini penyakit tersebut bisa disembuhkan karena hasil usaha dari Alihan Tjohjono, Executive Director PT Prima Agro Tech, berhasil mempopulerkan dan mengenalkan KaretPlus sebagai stimulansia untuk pohon karet.
“Dulu sebelum ada KaretPlus belum ada yang bisa menyembuhkan. Mereka (petani) hanya berharap dan berdoa pohon itu bisa sembuh dengan sendirinya. Kadang bisa 1 -2 tahun, bahkan bisa lebih lama lagi atau bahkan tidak sembuh,”kata pria berumur 36 tahun ini.
PERTEMUAN DENGAN PROFESOR MALAYSIA
Alihan memang bukan seorang peneliti atau ahli kimia. Dirinya adalah seorang lulusan jurusan Bisnis dari University of Wisconsin at Madison, Amerika Serikat. Awal dirinya mulai berkecimpung di perkebunan karet karena dipertemukan dengan seorang profesor dari Malaysia oleh temannya lima tahun lalu. Dirinya dijelaskan bahwa profesor tersebut berhasil menemukan formula penyembuh penyakit pohon karet dan stimulan peningkat produksi karet. Temannya awalnya sekedar ingin bertanya mengenai apa Alihan mengenal pemilik pohon karet di Indonesia. Namun karena sifatnya yang selalu peka akan peluang sejak dari kuliah, dengan kerjasama dengan profesor tersebut, Alihan pulang ke Indonesia untuk mencoba mengembangkan produk itu menjadi bisnis. “Kita kerjasama dengan profesor itu. Sekarang dia lebih kepada Research and Development,”kata Bapak satu orang anak ini.
Alihan langsung terjun untuk menawarkan langsung ke petani dan perusahaan perkebunan karet baik perusahaan plat hitam maupun merah. Sumatera menjadi target utamanya kala itu. Karena Perkebunan karet utamanya berada di Pulau Sumatera. Tahun 2010 perkebunan karet di Sumatera menempati lahan seluas 2,433 juta hektare dan menghasilkan 1,892 juta ton karet alam. Sisanya tersebar di beberapa wilayah di Pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.
Alihan mengatakan bahwa penyebaran penjualannya sekarang sudah cukup merata. Bisa meng-cover Sumatra, Kalimantan dan Jawa, walaupun karakter setiap propinsi beda-beda. Dirinya mengatakan bahwa semakin ke timur sudah tidak terlalu banyak pohon karetnya. Alihan meng-klaim daerah Sumatra sudah hampir 60% memakai produk KaretPlus. Hampir semua PTPN juga pakai seperti PTPN III, V, VII, VIII, IX, XII dan XIII
Awalnya bisa berhasil masuk ke perusahaan bahkan ke PTPN, bukan usaha mudah. Alihan mengatakan hampir mirip door to door hingga akhirnya dipercaya oleh PTPN dan beberapa perusahaan karet lain. Pria campuran Pontianak dan Surabaya ini mengatakan bahwa dirinya juga menggunakan rekanan atau partner untuk bisa dipertemukan dengan pengusaha karet di daerah. “Kita mencari rekanan atau partner dengan orang yang ada di daerah itu sendiri, biasanya distributor yang biasa memasukan produk dan bekerja sama dengan mereka,”kata pria yang menyukai kegiatan Triathlon ini.
Tes pasar ke daerah mendapatkan respon bagus, Alihan mendirikan PT Prima Agro Tech untuk menaungi penjualan KaretPlus ini. Selama setengah tahun dari tahun 2005, produknya masih diimport karena infrastruktur pabrik dan penjualannya masih kecil. Tetapi setelah itu, Alihan memutuskan untuk membuat pabrik di daerah Tangerang untuk manufaktur KaretPlus yang sebagian besar dijalankan oleh mesin dengan kapasitas mencapai 30 Ton. Biarpun begitu bahan baku pembuatannya masih ada yang harus diimport terutama bahan kimia. Namun untuk bahan baku seimbang alokasinya 50% tetap diambil dari lokal.
Pendirian perusahaan ini hampir 90% adalah modal sendiri. Modalnya sendiri karena memang sebelumnya Alihan sempat bekerja di Singapura dan Amerika Serikat. Dirinya pernah bekerja di Bank dan berwirausaha sendiri. Alihan mendirikan perusahaan Web Design di Singapura untuk pembuatan homepage tahun 1996-1997. “Set up web design company karena saya melihat charge homepage sendiri saat itu senilai 200 dollar, page selanjutnya 50 dollar. Lumayan kan kalau pagenya semakin banyak. Waktu itu menghasilkan uang dari usaha tersebut mudah sekali,”kata pria kelahiran Jakarta, April 1975.
KEUNGGULAN KARETPLUS
“Mereka tertarik karena kemampuan KaretPlus yang bisa menyembuhkan Kering Alur Sadap (KAS). 5-10% bahkan separahnya 30% dari plantation pasti menderita KAS ini. Selain itu keunggulannnya adalah bisa meningkatkan produksi lateks,”kata pria yang dari umur 9 tahun sudah tidak di Indonesia. Alihan menjamin bahwa dalam waktu 48 jam, pohon karet yang sakit itu akan bisa mengeluarkan lateks kembali walaupun belum normal produksinya. Dirinya mengatakan bahwa setelah 3 bulan akan normal kembali.
Produk yang digunakan dengan cara dioleskan ke alur sadap karet tersebut juga bisa mempertahankan dan meningkatkan Kadar Karet Kering, membuat kulit sadapan tersa lebih empuk sehingga mudah disadap dan memperpanjang masa sadap pohon karet. “Peningkatan produksinya sendiri pun setelah diberikan suplemen ini tergantung dari besarnya pohon juga. Kalau mau ngomong kasar atau awam, peningkatan produksi bisa sekitar 50% sampai 100%,”katanya.
Seekstrim apa yang bisa disembuhkan, Alihan tidak bisa menjelaskan karena pohon seperti manusia, karena tidak bisa melihat ke dalamnya. Apabila fisiknya sudah cukup rusak, karet plus bisa menyembuhkannya.
PRODUKSI KARETPLUS
“Indonesia lucunya 3,5 juta hektar itu 70% rakyat sedangkan 30% PT, itu seperti PTPN, Bridgestone, dan lainnya. Padahal menjangkau petani yang pasarnya lebih besar itu cukup susah. Kalau perusahaan kan alamatnya sudah jelas,”katanya. Untuk itulah distribusi penjualan menjadi sangat penting bagi Alihan untuk dapat menjangkau pasar walaupun sekarang ini 60% penjualan untuk PT dan 40% untuk Petani.
Alihan membangun jaringan dengan mencari orang yang berminat menjadi distributor produknya. Banyak cara yang dipakai baik lewat teman atau orang lain, atau berkenalan saat pergi ke daerah, atau masukan dari karyawannya yang sering pergi ke sentra-sentra karet. Alihan kini sudah mempunyai cabang di Medan, Palembang, dan Banjarmasin. “Distributornya sekarang sudah tidak kehitung mas,”katanya tertawa. Alihan menargetkan minimal per kabupaten minimal ada satu distributor.
Selain itu KaretPlus juga sering diikutkan ke beberapa pameran. Seperti ikut pameran Pusat Penelitian (Pusli) Karet, juga ikut pameran di daerah. “Tapi semua itu hanya perkenalan, selanjutnya adalah pembuktian langsung di lapangan,”katanya. Produknya tersedia dalam 3 ukuran yaitu 1 kilogram dengan harga Rp 400ribu, 250 gram dengan harga Rp 120ribu dan 75 gram dengan harga Rp 50 ribu. Pembagian ukuran ini dilakukan untuk menghindari pembajakan. “Untuk ukuran 1 kilogram ini tidak pernah dijual ke individu petani, tetapi untuk perusahaan karena kalau ke individu nanti bisa ada yang membuat 1 kilo menjadi botol-botol lebih kecil lagi,”katanya.
Pembelian produk ini biasanya tergantung oleh banyaknya jumlah pohon yang dimiliki. Alihan menjelaskan 1 hektar biasanya ada 500 pokok atau pohon. Sedangkan 1 kilo KaretPlus untuk 1 hektar selama 1 bulan. Saat wawancara, Alihan mengatakan ada pesanan dari sebuah perusahaan mencapai 8 ton. “Karena perkebunan dalam hal ini tidak semua langsung mereka pakai. Mereka pakai sedikit dulu, tidak langsung dipakai untuk satu kebun semuanya. Karena kalau ternyata mati, bisa mati semua pohon mereka,”katanya.
Alihan mengatakan bahwa tahun lalu penjualannya hampir mencapai 100 ton. Dirinya mengatakan bahwa peningkatan penjualannya rata-rata dari tahun ke tahun minimal double digit. Alihan menggambarkan penjualannya dari tahun pertama sampai sekarang adalah berbentuk kurva yang menanjak, bukan straight line.
Seiring semakin terkenalnya produk KaretPlus, barang palsu pun mulai bermunculan baik dari desain maupun fungsinya. Alihan melakukan diferensiasi adalah dengan cara mengedukasi produk, bahwa hanya KaretPlus yang benar-benar stimulansia karet. Tidak hanya itu, Alihan juga mengajari petani karet itu bahwa KaretPlus asli mempunyai seal plastik dengan merek, logo dan nama perusahaan tertera di seal.
“Sudah seperti itu saja masih ada palsunya. Banyak yang sudah murah barang palsunya sekitar 50ribu. Tetapi dalam pemakaian jangka panjang barang palsu tersebut malah akan menyebabkan KAS, dan produksinya tidak meningkat secara signifikan,”katanya.
PASAR EKSPOR
Menjadi satu-satunya produk dengan fungsinya, menjadikan Alihan yakin produk ini layak diekspor. Sejak pertengahan kedua tahun lalu KaretPlus sudah mulai ekspor. “Ini adalah produk satu-satunya di indonesia dan di dunia. Kalau di Indonesia saja bisa, pasti juga bisa mengover negara lainnya. Termasuk Thailand sebagai penghasil karet terbesar di dunia,”katanya. Alihan juga mengikutkan KaretPlus di pameran-pameran seperti International Rubber Conference minggu lalu di Hotel Borobudur. Alihan mengatakan banyak bertemu dengan pusat penelitian karet dari banyak negara. “Tetapi kembali lagi kepada pembuktiannya. Kita tetap harus membuktikannya. Di situ teman-teman di Indonesia juga merekomendasikan kita,”katanya.
Alihan mengatakan bahwa ekspornya masih sedikit, karena masih dalam tahap penjajakan. Baru Vietnam dan Thailand sekarang ini. Alihan mengatakan bahwa potensi pasar ekspor sangat besar. Dirinya mengambil contoh Thailand dengan lahan 2,8 juta hektar, dengan pemakaian 1 kilo untuk 1 hektar per bulan dan kompetitor sejauh ini belum ada. Alihan berharap PT Prima Agro Tech bukan hanya untuk KaretPlus namun bisa menjadi solusi untuk tanaman baik pertanian maupun perkebunan. Perusahaannya kini sedang melakukan riset untuk bidang-bidang lainnya. Dirinya ingin bekerjasama dengan peneliti baik luar maupun dalam negeri menggarap bioteknologi yang baru. “Inovasi ke depannya harus tetap berjalan baik untuk KaretPlus maupun menciptakan produk lain.”
5 tahun ke depan Alihan ingin mengembangkan perusahaannya lebih multi disiplin bukan saja hanya karet mungkin akan coba menjajaki untuk tanaman tebu. Prima Agro tech sekarang sedang mengembangkan produk terbaru namun masih dalam naungan karet. “Untuk mengantisipasi hujan besar dan sangat mempengaruhi produksi karet dan harga. Kita ada satu alat seperti talang air supaya saat waktu hujan tidak membasahi karetnya. Ini sedang kita develop,”katanya yang masih sering turun ke lapangan untuk bertemu langsung dengan konsumennya.
**Tulisan ini adalah tulisan mentah yang sudah tayang di Majalah SWA No.13/2011
No comments:
Post a Comment