Isu kenaikan BBM tampaknya tidak
akan bisa ditawar lagi. Sekencang apapun rakyat berteriak, status quo yang berkuasa tidak akan mendengar. Lalu apa yang terjadi
bila BBM terus naik?
Pastinya,
barang-barang kebutuhan akan naik. Dan hal ini justru akan semakin memiskinkan
masyarakat. Negara berhemat, tetapi bukan rakyat secara keseluruhan. Saya bukan
orang pintar dan bukan ahli hitung-hitungan uang.
Saya
melansir dari detikfinance.com pada tahun 2011. Di situ dikatakan kemacetan
parah yang terjadi di Jakarta membuat warganya mengalami kerugian yang nilainya
mencapai Rp 43 triliun per tahun. Sedangkan kalau secara agregat akan berkisar
sekitar Rp 28 triliun. Dalam hal pemborosan, angka itu sangat besar. Angka
tersebut diutarakan oleh ekonom UI Andrinof Chaniago.
Itu baru di
Jakarta. Di beberapa kota di Jawa saja sudah mengalami kemacetan. Bisa
dibayangkan berapa kerugian yang bisa ditakar. Banyak! Saya tidak bisa
menghitungnya hanya asumsi saja. Dilihat dari sisi konsumsi masyarakat,
kemacetan dapat meningkatkan konsumsi warga, tetapi tidak pendapatannya.
Lalu
bagaimana saya dan rakyat bisa membeli minyak dengan harga selangit? Di satu
sisi, barang-barang kebutuhan mengalami kenaikan harga. Di satu sisi, bensin
juga ingin naik. Lalu, negara berhemat, tetapi rakyatnya kesulitan memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Pemerintah
DKI berusaha memberikan upaya dengan proyek mega raksasanya yaitu pembangunan Mass Rapid Transport (MRT). Saya tidak
antipati, tetapi sangat mendukung. Tetapi, siapa yang bisa menjamin akan segera
dibangun? Jakarta sudah kian macet dan segera akan diterpa badai harga BBM.
Kemiskinan akan
meningkat, dan pastinya angkanya akan merangkak naik diikuti angka
kriminalitas. Mungkin pemerintah lupa angka hal itu. Atau mungkin sudah berubah
hubungan sebab-akibat itu?
Hal ini
tentunya membuat orang masih tetap akan memilih membeli motor dan mobil untuk
mendapatkan kenyamanan. Dan saya berani bertaruh bahwa walaupun bensin naik
mobil dan motor tetap akan bertambah.
Melansir
dari Kompas.com pada tayangan berita tahun 2011, Jakarta diprediksi akan macet
total pada tahun 2014. Hal ini dikatakan oleh Direktur Lalu Lintas Polda Metro
Jaya Kombes Royke Lumowa. Melihat pertumbuhan kendaraan setiap harinya mencapai
rata-rata 700 kendaraan.
Dibutuhkan
kebijakan ekstrem untuk menyelesaikan masalah ini. Membatasi kendaraan? Saya
tidak cukup setuju. Setiap orang memiliki hak untuk membeli mobil atau motor.
Siapapun tidak bisa membatasi. Lalu produsen? Mereka juga tidak bisa disalahkan
dalam hal memproduksi.
Yang saya
sesalkan adalah produsen kendaraan di Indonesia seharusnya membantu mewujudkan
impian Jakarta yaitu bebas macet. Bagaimana tidak isu go green yang sedang seksi ini seakan menutup semua isu yang lebih
penting. berbagai produsen malah menambah produksinya untuk memenuhi kebutuhan
manusia dengan beragam teknologi yang ramah lingkungan.
Lalu kalau
memang benar laku, semua mobil ramah lingkungan sudah terganti, tetap saja mau jalan lewat mana?
Jalannya gak ada. Pertumbuhan jalan
tidak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan. Masyarakat juga akan tetap rugi, yang jelas rugi waktu.
Menurut saya semua ini seharusnya
kembali semangat CSR perusahaan yang sebaiknya mampu memaksimalkan kompetensi
dan sesuai koridor bisnis produsen. Ambil
contoh, produsen kendaraan umum seharusnya memberikan program CSR yang sesuai
dengan kompetensinya. Apa itu? Membantu membangun jalan. Bukan malah
ikut-ikutan menanam pohon. Lalu bagaimana dengan properti? Mereka juga seharusnya
membantu mewujudkan rumah yang sesuai dengan pertumbuhan jalan ke depannya.
Masa sih
semua keuntungan mau diambil sendiri dan diserahkan kepada prinsipal asing? Setidaknya
berdasarkan logika, apabila program jalan ini bisa direalisasikan bekerja sama
dengan pemerintah, kerugian warga tidak akan besar. Konsumsi akan naik dan
bisnis juga akan lancar karena waktu akan semakin efisien.
Setelah ada
jalan baru deh mikirin pembatasan mobil, bensin naik, atau MRT yang mau lewat
tanah atau atas. Terserah. Hari gini mau bangun MRT, yang pasti bikin jalan
macet. Perawatannya? Liat Transjakarta aja deh. Berapa yang tidak ber-AC, pintu
tidak bisa ditutup, atau terbakar?
Ayo
pemerintah dan para perusahaan terkait. Bantu kami dengan memberikan akses
jalanan. Urusan hijau sudah ada perusahaan lain yang bisa memberikannya.
Salam.
