Wednesday, March 14, 2012

Transportasi Indonesia (2) : Kami Butuh Jalan



Isu kenaikan BBM tampaknya tidak akan bisa ditawar lagi. Sekencang apapun rakyat berteriak, status quo yang berkuasa tidak akan mendengar. Lalu apa yang terjadi bila BBM terus naik?

Pastinya, barang-barang kebutuhan akan naik. Dan hal ini justru akan semakin memiskinkan masyarakat. Negara berhemat, tetapi bukan rakyat secara keseluruhan. Saya bukan orang pintar dan bukan ahli hitung-hitungan uang.

Saya melansir dari detikfinance.com pada tahun 2011. Di situ dikatakan kemacetan parah yang terjadi di Jakarta membuat warganya mengalami kerugian yang nilainya mencapai Rp 43 triliun per tahun. Sedangkan kalau secara agregat akan berkisar sekitar Rp 28 triliun. Dalam hal pemborosan, angka itu sangat besar. Angka tersebut diutarakan oleh ekonom UI Andrinof Chaniago.

Itu baru di Jakarta. Di beberapa kota di Jawa saja sudah mengalami kemacetan. Bisa dibayangkan berapa kerugian yang bisa ditakar. Banyak! Saya tidak bisa menghitungnya hanya asumsi saja. Dilihat dari sisi konsumsi masyarakat, kemacetan dapat meningkatkan konsumsi warga, tetapi tidak pendapatannya.

Lalu bagaimana saya dan rakyat bisa membeli minyak dengan harga selangit? Di satu sisi, barang-barang kebutuhan mengalami kenaikan harga. Di satu sisi, bensin juga ingin naik. Lalu, negara berhemat, tetapi rakyatnya kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pemerintah DKI berusaha memberikan upaya dengan proyek mega raksasanya yaitu pembangunan Mass Rapid Transport (MRT). Saya tidak antipati, tetapi sangat mendukung. Tetapi, siapa yang bisa menjamin akan segera dibangun? Jakarta sudah kian macet dan segera akan diterpa badai harga BBM.

Kemiskinan akan meningkat, dan pastinya angkanya akan merangkak naik diikuti angka kriminalitas. Mungkin pemerintah lupa angka hal itu. Atau mungkin sudah berubah hubungan sebab-akibat itu?

Hal ini tentunya membuat orang masih tetap akan memilih membeli motor dan mobil untuk mendapatkan kenyamanan. Dan saya berani bertaruh bahwa walaupun bensin naik mobil dan motor tetap akan bertambah.

Melansir dari Kompas.com pada tayangan berita tahun 2011, Jakarta diprediksi akan macet total pada tahun 2014. Hal ini dikatakan oleh Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Royke Lumowa. Melihat pertumbuhan kendaraan setiap harinya mencapai rata-rata 700 kendaraan.

Dibutuhkan kebijakan ekstrem untuk menyelesaikan masalah ini. Membatasi kendaraan? Saya tidak cukup setuju. Setiap orang memiliki hak untuk membeli mobil atau motor. Siapapun tidak bisa membatasi. Lalu produsen? Mereka juga tidak bisa disalahkan dalam hal memproduksi.


foto : assets.kompas.com

Yang saya sesalkan adalah produsen kendaraan di Indonesia seharusnya membantu mewujudkan impian Jakarta yaitu bebas macet. Bagaimana tidak isu go green yang sedang seksi ini seakan menutup semua isu yang lebih penting. berbagai produsen malah menambah produksinya untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan beragam teknologi yang ramah lingkungan.

Lalu kalau memang benar laku, semua mobil ramah lingkungan sudah terganti, tetap saja mau jalan lewat mana? Jalannya gak ada. Pertumbuhan jalan tidak sebanding dengan pertumbuhan kendaraan. Masyarakat juga akan tetap rugi, yang jelas rugi waktu.

Menurut saya semua ini seharusnya kembali semangat CSR perusahaan yang sebaiknya mampu memaksimalkan kompetensi dan sesuai koridor bisnis produsen. Ambil contoh, produsen kendaraan umum seharusnya memberikan program CSR yang sesuai dengan kompetensinya. Apa itu? Membantu membangun jalan. Bukan malah ikut-ikutan menanam pohon. Lalu bagaimana dengan properti? Mereka juga seharusnya membantu mewujudkan rumah yang sesuai dengan pertumbuhan jalan ke depannya.

Masa sih semua keuntungan mau diambil sendiri dan diserahkan kepada prinsipal asing? Setidaknya berdasarkan logika, apabila program jalan ini bisa direalisasikan bekerja sama dengan pemerintah, kerugian warga tidak akan besar. Konsumsi akan naik dan bisnis juga akan lancar karena waktu akan semakin efisien.

Setelah ada jalan baru deh mikirin pembatasan mobil, bensin naik, atau MRT yang mau lewat tanah atau atas. Terserah. Hari gini mau bangun MRT, yang pasti bikin jalan macet. Perawatannya? Liat Transjakarta aja deh. Berapa yang tidak ber-AC, pintu tidak bisa ditutup, atau terbakar?

Ayo pemerintah dan para perusahaan terkait. Bantu kami dengan memberikan akses jalanan. Urusan hijau sudah ada perusahaan lain yang bisa memberikannya. 

Salam.

Wednesday, November 2, 2011

Penunjuk Waktu ala LEGO

Waktu adalah uang. Pepatah lama itu tak pernah lekang oleh waktu. Dari situ memperlihatkan bahwa waktu sangat berharga bagi setiap sendi kehidupan manusia sekarang ini. Karenanya, setiap orang pasti selalu memperhatikan waktu.

Seiring perkembangan jaman dan teknologi, jam mulai berevolusi. Dari awalnya hanya dipajang di tengah-tengah kota dengan ukuran besar, sekarang sudah bisa dinikmati secara pribadi dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuknya pun bukan hanya jarum saja namun beralih ke arah digital. 

Dengan sentuhan teknologi dan dunia fashion, sang penunjuk waktu itu pun menjadi salah satu aksesoris penentu kelas sosial seseorang. Dunia anak-anak pun juga dilihat sebagai pasar persaingan bagi para produsen jam. Warna warni menjadi hal yang terlihat apabila jam itu untuk anak-anak.

Fleksibilitas

Permasalahan besar yang sering ditemui untuk masalah jam adalah besarnya lingkar lengan. Lengan anak kecil biasanya berubah cukup cepat seiring dengan pertumbuhan. Anak kecil, sama halnya dengan orang dewasa, pasti pernah mengalami kebosanan akan suatu barang terutama jam tangan, benda yang mempunyai lifetime cukup panjang. 

Potensi inilah yang kemudian sepertinya ditangkap Lego, perusahaan mainan brick (bata). Lego melepas produknya dalam bentuk jam tam tangan. Dengan berbagai macam seri seperti Jam Tangan Lego Seri Star Wars. Versinya sangat banyak dengan bisa ditambahkan juga action figure khas Lego atau ada yang bisa ditambahkan pesawat atau aksesoris lainnya.















picture from Google.

Yang menarik dari jam tangan ini adalah anda bisa menyesuaikan sendiri ukuran jam tangan dengan pergelangan tangan anda. Sesuai dengan ciri khas Lego, lengannya pun berbentuk brick yang bisa dilepas sambung sesuai dengan kebutuhan. 

Untuk anak-anak hal ini tentulah sangat menarik karena bisa mengubah-ubah urutan warna menjadi lebih variatif. Apabila mereka bosan, mereka bisa saling bertukar warna brick dengan temannya yang juga mempunyai jam tangan Lego. 

Fleksibilitas inilah yang tampaknya menjadi nilai tambah dari produk jam tangan Lego ini. Karena nilai tambah tersebut, pasar itu sendiri berkembang. Bukan hanya anak-anak tetapi level remaja bahkan hingga eksekutif muda pun menyukai produk Lego yang satu ini. 

Maka, selamat tinggal dunia statis. Lego sendiri tampaknya tidak akan berhenti sampai di sini saja. Mari kita tunggu lagi inovasi Lego .