Wednesday, November 2, 2011

Penunjuk Waktu ala LEGO

Waktu adalah uang. Pepatah lama itu tak pernah lekang oleh waktu. Dari situ memperlihatkan bahwa waktu sangat berharga bagi setiap sendi kehidupan manusia sekarang ini. Karenanya, setiap orang pasti selalu memperhatikan waktu.

Seiring perkembangan jaman dan teknologi, jam mulai berevolusi. Dari awalnya hanya dipajang di tengah-tengah kota dengan ukuran besar, sekarang sudah bisa dinikmati secara pribadi dengan ukuran yang lebih kecil. Bentuknya pun bukan hanya jarum saja namun beralih ke arah digital. 

Dengan sentuhan teknologi dan dunia fashion, sang penunjuk waktu itu pun menjadi salah satu aksesoris penentu kelas sosial seseorang. Dunia anak-anak pun juga dilihat sebagai pasar persaingan bagi para produsen jam. Warna warni menjadi hal yang terlihat apabila jam itu untuk anak-anak.

Fleksibilitas

Permasalahan besar yang sering ditemui untuk masalah jam adalah besarnya lingkar lengan. Lengan anak kecil biasanya berubah cukup cepat seiring dengan pertumbuhan. Anak kecil, sama halnya dengan orang dewasa, pasti pernah mengalami kebosanan akan suatu barang terutama jam tangan, benda yang mempunyai lifetime cukup panjang. 

Potensi inilah yang kemudian sepertinya ditangkap Lego, perusahaan mainan brick (bata). Lego melepas produknya dalam bentuk jam tam tangan. Dengan berbagai macam seri seperti Jam Tangan Lego Seri Star Wars. Versinya sangat banyak dengan bisa ditambahkan juga action figure khas Lego atau ada yang bisa ditambahkan pesawat atau aksesoris lainnya.















picture from Google.

Yang menarik dari jam tangan ini adalah anda bisa menyesuaikan sendiri ukuran jam tangan dengan pergelangan tangan anda. Sesuai dengan ciri khas Lego, lengannya pun berbentuk brick yang bisa dilepas sambung sesuai dengan kebutuhan. 

Untuk anak-anak hal ini tentulah sangat menarik karena bisa mengubah-ubah urutan warna menjadi lebih variatif. Apabila mereka bosan, mereka bisa saling bertukar warna brick dengan temannya yang juga mempunyai jam tangan Lego. 

Fleksibilitas inilah yang tampaknya menjadi nilai tambah dari produk jam tangan Lego ini. Karena nilai tambah tersebut, pasar itu sendiri berkembang. Bukan hanya anak-anak tetapi level remaja bahkan hingga eksekutif muda pun menyukai produk Lego yang satu ini. 

Maka, selamat tinggal dunia statis. Lego sendiri tampaknya tidak akan berhenti sampai di sini saja. Mari kita tunggu lagi inovasi Lego .  

Tuesday, September 27, 2011

Social Media Festival


Sejenak me-refresh diri, pacar memberitahu akan ada perhelatan akbar mengenai social media festival, seluruh acara bertemakan social media. Hari Rabu, minggu lalu saya segera saja meluncur ke sana untuk melihat sendiri.

Sudah cukup banyak saya bertemu dengan beberapa pelaku bisnis yang menggunakan platform social media untuk memajukan bisnisnya. Tapi itu dulu saat saya masih menjadi wartawan. Tetapi memang tidak bisa dipungkiri bahwa social media sudah menjadi bagian penting dari hidup manusia sekarang ini.

Diadakan di Plaza fX, Sudirman, Jakarta Pusat, acara itu setidaknya sedikit membuat saya takjub bahwa mereka menempatkan stand para pegiat social media dan stage di setiap lantai dari fX. Dan acara itu hebatnya digelar selama tiga hari. Sayangnya saya hanya bisa datang di hari pertama saja. Melewatkan banyak kesempatan mendengarkan seminar dari beberapa orang hebat yang menggunakan social media.

Setidaknya ada satu seminar yang menarik berhasil saya ikuti yaitu saat menghadirkan Joshua Gunawan dari Danone, Alderina dari Magnivate, dan dua pegiat social media (memang saya tidak tahu terlalu ngeh namanya).

Betapa saya terkagum melihat ada seseorang yang mempunyai pekerjaan sampingan sebagai kuis hunter lewat twitter. Hadiah yang pernah dimenangkannya pun beragam dari paket liburan sampai gadget-gadget terkini. Ternyata sudah ada komunitas kuis hunter juga. Wew..bisa jadi pekerjaan sampingan juga.

Yang menarik dari seminar teresbut adalah bahwa fenomena social media sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Kata-kata dari Joshua yang paling menarik adalah tidak ada yang bisa mengontrol orang di social media. Ditambahkan oleh saya yaitu asal tidak menyinggung seseorang atau dengan kata lain mendiskreditkan siapapun.

Dari situ bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa sebuah produk, terutama retail, bisa mengembangkan semua promosinya lewat social media. Hasilnya memang ada yang suka dan tidak suka tetapi setidaknya brand awareness bisa dipegang oleh konsumen. Memang tidak semuanya bisa menghasilkan kenaikan dalam hal pembelian di konsumen secara langsung. Tetapi apabila berhasil, setidaknya apabila mampu merebut mind share di konsumen saya yakin semuanya akan tinggal menunggu waktu dalam hal pembelian.

Alderina pun mengatakan bukan tidak mungkin social media pun bisa masuk ke ranah bisnis B2B (business to business) saja. Karena bukan tidak mungkin seorang pengambil keputusan di sebuah perusahaan bisa saja mengikuti atau menggunakan social media.

Jadi tunggu apalagi, social media bukan hanya sebuah branding untuk diri sendiri bahkan bisa untuk mengembangkan bisnis anda. Sayang sekali saya tidak mengikuti seminar bisnis yang lainnya. Semoga di lain waktu atau tahun depan saya bisa mengikuti acara Social Media Festival lagi.